Seorang Guru Menghasilkan Uang Lewat Menulis Blog

Kisah bagaimana aktivitas menulis bisa menghasilkan tambahan rupiah bagi seorang guru.

Seberapa Siap Anda Menyandang Predikat Orangtua bagi Anak-anak?

Menjadi orangtua untuk anak-anak lebih dari sekedar panggilan bapak atau ibu. Ibarat pilot, ada bekal pengetahuan agar bisa terbang dengan selamat.

9 Macam Kecerdasan, Masuk yang Manakah Anak Anda?

Setiap anak terlahir berbeda dan istimewa. Tidak ada anak yang terlahir sebagai produk gagal tuhan. Sudahkah menemukan keistimewaan yang menjadi keunggulan khas dirinya?

8 Rahasia Media Sosial untuk Meningkatkan Pembelajaran Siswa

Media sosial selain bisa digunakan untuk berinteraksi juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Simak di sini.

Pentingkah mengajari anak menggunakan perangkat digital?

Memang sulit membendung media. Segala informasi ada di dunia maya, pengaruh negatif siap menerkam anak kita. Di mana saja dan kapan saja - Munif Chatib

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

06 September 2019

Ini Strategi Mengasuh Anak Di Era Digital





"Adik, sudah jangan ke situ nanti rusak lho ya."
"Heh, diam dong. Orangtua ngomong kok menyela terus."
"Pokoknya nanti harus belajar. nanti Mama yang ngajarin."
"Ayah capek. Sana ke Mamamu."
"Aduuuuh. Kok main di tanah sih. Kotor jadinya, kan?"
"Awas jangan pegang-pegang handphone mama."

Ungkapan-ungkapan seperti di atas sering kita temui di kehidupan keluarga ketika menghadapi anak-anak. Percayalah, mereka akan semakin menjadi-jadi kalau dilarang. 

Bunda bisa stress kalau tidak dibumbui kesabaran. Sesekali menonton hiburan lewat handphone. Eh, Si kecil menyambar. Mau ikut main juga. 

Saya teringat kalimat dalam film Spiderman ini ketika diucapkan pamannya dengan mantap sambil memandang ke arah sang pahlawan manusia laba-laba:


"With great power comes great responsibility; seiring  kekuatan besar ada tanggung jawab besar"

Tapi saya ganti saja kutipan di atas menjadi:


"With great mom comes great kids; dibalik anak-anak hebat ada mama hebat."


Mendidik anak usia dini memerlukan perhatian ekstra dari orangtua. Terutama ibu. Apalagi di zaman teknologi saat ini. Rasanya tugas ibu jadi bertambah: mengawasi pola mereka saat bermain dengan perangkat digital. 

Melelahkan sekaligus menantang, bukan? Tapi kalau sukses maka akan dihasilkan generasi-generasi hebat dari ibu hebat. Di artikel ini kita akan membahas tentang pendidikan anak-anak dalam era kecanggihan digital dan bagaimana orangtua menyiasatinya.

Masa keemasan anak adalah fase terpenting. Masa-masa itu begitu menyenangkan, menggemaskan dan pasti akan dirindukan. Nanti ketika  anak-anak  sudah dewasa. Para ahli menyebut masa menggemaskan itu sebagai masa "Golden Age".

Sebuah masa yang sangat penting dan tidak akan pernah terulang lagi. Penting karena menentukan masa-masa selanjutnya. Tidak akan terulang karena ia terjadi sekali. Dalam seumur hidup. 

Golden age berawal dari usia kandungan 0 bulan sampai anak berusia kira-kira 8 tahun. Pada fase ini perkembangan otak anak sangat cepat dan akan terbentuk hingga 80%. 

Ibarat rumah atau bangunan, fase tersebut adalah fondasinya. Jika fondasi itu dibangun dengan kuat dan kukuh, menggunakan semen berkualitas, pasir dan batu pilihan, niscaya rumah tersebut akan kuat berdiri tegak. Meskipun bangunan itu berdiri di atas ratusan lantai. 

Fase tersebut mengharuskan orangtua dan guru agar memberikan perhatian yang serius. Baik pada faktor tumbuh kembang secara fisik maupun psikis pada anak usia dini.

Urusan pendidikan tidak bisa main-main. Ibarat uang, ia adalah investasi. Kita sedang berinvestasi. Namanya investasi manfaatnya baru dirasakan 10 hingga 50 tahun ke depan. Dan itu dimulai dari masa anak-anak sekarang sebagai fondasinya.


Ada budaya menarik. Ini nyata terjadi di Jepang. Di sana 99 persen wanita hamil memilih berhenti bekerja. Tujuannya agar bisa berkonsentrasi pada masa kehamilannya. Mereka akan kembali berkarier dan bekerja setelah anaknya menginjak usia delapan tahun ke atas. 

Setelah melewati masa golden age

Budaya tersebut menunjukkan bahwa masa kehamilan hingga usia emas (golden age) sangat penting bagi wanita Jepang. Para ibu di Jepang mementingkan pendidikan dan perhatian anak di fase usia ini. Tak heran jika negeri Sakura itu maju. Di balik ibu hebat lahirlah anak-anak kuat.

Tujuh tahun pertama anak-anak fokus melewati perkembangannya dengan menyenangkan. Mendapat pendidikan dan perhatian penuh dari orangtua. Baru anak akan tumbuh dengan percaya diri. Berkarakter. Tidak gampang digoyahkan. 

Tujuh tahun pertama tersebut akan mempengaruhi tujuh tahun berikutnya. Lalu tujuh tahun lagi sesudahnya. Sampai anak menginjak usia dewasa. Tiga periodisasi umum tersebut memiliki peran masing-masing. Tujuh tahun pertama adalah yang utama.

Itu juga-lah yang mendasari PAUD Apple Tree Pre-school BSD, Tangerang. Kombinasi antara perhatian orangtua dan pendidikan usia dini di luar rumah yang berkualitas maka besar kemungkinan akan menghasilkan generasi-generasi berkelas. 

Sebagai institusi yang memfokuskan diri pada masa emas anak-anak, Apple Tree Pre-school BSD ikut ambil bagian membibit generasi berkualitas dan memiliki berbagai keunggulan. 

Tengok saja kurikulumnya. Mengadopsi dari kurikulum Singapura yang dikenal sebagai negeri maju di kawasan Asia. Karena menggunakan kurikulum Singapura berarti penggunaan bahasa Inggris dan Mandarin sudah dikenal peserta didik sejak dini. Keuntungannya, anak akan menjadi seorang polyglot (menguasai/penutur banyak bahasa). Seseorang cenderung lebih cerdas kalau dia menguasai lebih dari dua bahasa disamping bahasa ibu.

Berbekal pengalaman selama 19 tahun dalam pendidikan anak usia dini Apple Tree Pre-school BSD memiliki visi mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa. Belasan tahun di dunia pendidikan anak usia dini itu tidak diragukan lagi dalam upaya membentuk perkembangan fisik yang solid. Tentu saja sisi intelektual, emosional dan sosial ikut berkembang dengan baik di dalamnya. 


Tahukah Anda?


  • Orang-orang jenius di Silicon Valley (pusat perkembangan teknologi digital dunia di Amerika Serikat) menjauhkan komputer dari keseharian anak-anak mereka.
  • Perancis melarang penggunaan ponsel di sekolah
  • Terpapar perangkat digital sejak dini bisa menyebabkan otak dan emosi anak berkembang tidak sempurna.
  • Ponsel cerdas (smartphone) bisa membuat anak sulit berkonsentrasi, dan bahkan, tidak mampu berpikir.
  • Bayi yang sering terpapar video berbahasa Inggris, kemampuan perkembangan bersosialisasi dan bahasanya akan terganggu. (buku Yee-Jin Shin, Mendidik Anak di Era Digital).
Sebagai orangtua, ada sebuah dilema ketika anak dihadapkan pada teknologi digital. Di satu sisi, anak-anak mau tidak mau harus terpapar teknologi. 

Di sisi lain, kita harus bijak memanfaatkannya. Tindakan mengisolasi sepenuhnya anak-anak dari peran teknologi juga bukan keputusan bijak. 

Munif Chatib, praktisi dan pakar pendidikan multiple intelligence (kecerdasan majemuk) dan penulis buku 'Orangtuanya Manusia' menulis:

"Memang sulit membendung media. Segala informasi ada di dunia media. Pengaruh negatif siap menerkam anak kita. Media menjadi ancaman berikutnya, bagi anak kita."

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 pernah merilis data bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta. Hingga sekarang kemungkinan jumlahnya terus bertambah. Kemudian, dalam kategori pelajar angkanya cukup mencengangkan, yakni 34 juta pengguna. 

Para pelajar inilah yang sebagian di antaranya adalah digital native. Sebuah generasi yang lahir dan menjadi penduduk asli di saat zaman digital berkembang begitu pesat mengiringi pertumbuhan dan perkembangannya. 

Anak-anak era kekinian, khususnya di perkotaan, begitu familiar dengan gawai. Mereka digitally connected dan begitu piawai menggunakannya, bahkan melebihi orangtuanya yang terkadang masih gagap karena masih tergolong generasi digital immigrant. Generasi pendatang di era digital sehingga masih melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Pernahkah Anda mengalami ketika menggunakan ponsel atau perangkat digital dibantu oleh anak-anak? Mereka menuntun Anda sehingga anda baru mengerti. 

Atau, ada istilah-istilah tertentu yang kita tidak tahu tapi anak-anak sudah mengetahui lebih dulu?

Dengan demikian, para orangtua juga penting untuk ikut up to date sebagai langkah antisipasi, sehingga bisa mengiringi perkembangan para digital native tersebut. Adalah tidak lucu ketika orangtua "diperdaya" anak-anak melalui kecanggihan teknologi karena kealpaan diri terhadap perkembangannya.

Pada bagian lain, Yee-Jin Shin, psikiater Korea mengungkapkan, anak yang terlalu sering terpapar media digital pada tingkat tertentu akan mengalami fase yang ia sebut dengan istilah matang semu.

Secara fisik mereka normal dan baik-baik saja. Ukuran tubuhnya sesuai dengan perkembangan usia seharusnya. Tapi pada perkembangan emosi dan kejiwaannya bermasalah sebagai akibat dari penggunaan media digital secara tidak tepat dan benar.

Hal itu terjadi karena orangtua abai dan tidak mendampingi anak ketika menggunakan perangkat digital. 

Ciri-cirinya, menurut Shin, anak mengalami kesulitan bersosialisasi karena lebih fokus ke gawai (digital device), susah berkonsentrasi, suka membangkang, impulsif dan sulit diatur.

"Semakin sering anak terpapar (menggunakan) perangkat digital, semakin besar kemungkinan anak mengalami kesulitan dalam perkembangan emosi, daya konsentrasi, dan daya pikirnya...pada anak-anak yang masih dalam tahap pembentukan sirkuit otak, efek samping dari perangkat digital menjadi fatal sehingga menimbulkan cacat yang tidak bisa diperbaiki."

Yang paling parah mereka akan mengalami kecanduan (digital addicted). Pada tingkat tertentu sulit disembuhkan dan perlu penangan serius oleh psikiater. 





Di Korea, sebagai negara super power dalam perkembangan IT-nya, fenomena di atas menjadi pemandangan mengerikan. Kalau Anda memegang handphone merk Samsung itulah salah satu produk teknologinya. Dampak perangkat digital, jika tidak dihadapi dengan bijak, sama bahayanya dengan ancaman penyalahgunaan narkoba (drug abuse). 

Bahkan, pada tingkat tertentu, lebih parah dan sulit disembuhkan. Pengaruh penyalahgunaan perangkat digital (digital abuse) merongrong setiap detik di ruang-ruang pribadi yang tak terdeteksi secara kasat mata.

Fenomena demikian diamini oleh Rahma Sugihartati, Dosen Masyarakat Digital FISIP Unair, Surabaya. Ia mengungkapkan bahwa di era posmodern seperti sekarang ini, ancaman bahaya yang menyasar anak-anak bukan di luar rumah saat mereka bermain dan bersosialisasi secara nyata. Sebaliknya, bahaya itu justru kerap terjadi ketika anak masuk kamar dan menenggelamkan dirinya memainkan gawai dan berinternet (Jawa Pos, 6/8). 

Fakta menarik lainnya, menurut laporan New York Times 2011, para teknokrat dan jenius di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang tidak menyediakan fasilitas komputer. 


Padahal, Silicon Valley adalah kiblat dari perkembangan teknologi digital. Ia adalah wilayah berkantornya raksasa-raksasa teknologi yang mengendalikan dunia, semisal Google, Hawlett-Packard (HP), Facebook, dan Apple. 

Di eropa, Perancis secara khusus mulai melarang penggunaan ponsel cerdas di sekolah. Pertanyaannya, haruskah menunggu fenomena Korea tersebut menjangkiti Indonesia untuk menyelamatkan generasi emas bangsa dari ancaman era digital?






Lalu, apakah bijak bila kemudian orang tua melakukan tindakan mengisolasi anak sepenuhnya dari pengaruh teknologi? Sebuah ungkapan menyatakan bahwa ada dua hal di dunia ini yang tidak bisa dilawan, yakni kematian dan teknologi. Kalau yang pertama lebih baik mempersiapkan. Sedangkan yang kedua, sebaiknya menyesuaikan agar tidak tumbang. Untuk menjembatani ketimpangan pengetahuan itu, tujuh prinsip dasar digital parenting dari Yee-Jin Shin ini bisa dipertimbangkan.

1. Mendahulukan “kapan” daripada “apa”


Titik tekan di sini bukan pada perangkat apa (jenis, harga, merk) yang akan diberikan pada anak, melainkan kapan waktu yang tepat mulai mengenalkan. Pada dasarnya, lebih lambat lebih baik asalkan dibarengi dengan digital parenting yang diterapkan pada mereka, terutama yang sudah terlanjur mengenal perangkat digital. Jadi, tidak membiarkan begitu saja dalam penggunaannya.

2. Kualitas lebih penting dari pada kuantitas

Ketika penggunaan perangkat digital ditentukan “waktu”-nya maka ada keteraturan yang diterapkan. Misalnya, memberi batasan kapan boleh bermain game dan tidak, bukan berapa lama bermainnya. Akan lebih berpengaruh jika membangun komunikasi tentang konten yang dimainkan, tidak pada durasinya. Jadi, sebaiknya diputuskan dengan tegas apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh anak lakukan.

3. Tentukan sanksi jika anak melanggar janjinya

Hal ini untuk menjadi warning bagi anak bahwa ada konsekwensi jika terjadi pelanggaran kesepakatan. Tentu saja orang tua harus tegas menerapkannya. Akan lebih baik jika didahului sebuah kesepakatan sebelum memberikan perangkat. Kalau perlu menuliskannya dan ditempel di dinding atau tempat-tempat yang mudah terlihat anak.

4. Jelaskan ditetapkannya peraturan

Agar ada kesadaran untuk melaksanakan peraturan, poin 3 sebaiknya diikuti dengan penjelasan alasan ditetapkannya peraturan. Dengan demikian anak bisa memahami secara baik melalui penjelasan sederhana. Misalnya, kamu bisa bodoh kalau terus bermain game.” Penjelasan masuk akal demikian selain membuat anak maklum, juga menghindari perlawanan karena ketidaktahuan anak alasan diterapkan aturan.

5. Barbagi pengalaman tentang perangkat digital dengan anak

Pengetahuan orang tua tentang digital menjadi bahan untuk mendekatkan dengan anak, sehingga ada komunikasi mengenai sesuatu yang disukai dan tidak disukai anak. Namun, buka berarti harus menguasai semua secara teknis. Cukup mengajaknya bicara tentang beberapa item saat bermain ponsel atau game menunjukkan bahwa Anda di mata anak tidak “ketinggalan” mengenai perangkat digital. Intinya, orang tua menjadi “teman” berbagi pengalaman agar anak merasa nyaman.

6. Libatkan seluruh anggota keluarga

Penerapan digital parenting akan sia-sia jika dalam keluarga tidak kompak. Untuk itu, ayah, ibu, kakak, adik harus mengikuti peraturan tanpa terkecuali. Jika pengasuhan dengan orang lain, mintalah dia untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Akan lebih bijak bila sampai menentukan satu hari dalam seminggu tanpa perangkat digital dan menggantinya dengan kegiatan lain, seperti membaca buku bersama, memasak, dan kegiatan positif lainnya.

7. Minta bantuan psikiater jika tidak bisa mengatasi

Pada kondisi tertentu, ada perbedaan mendasar antara “pemakaian berlebihan” dengan “kecanduan” (addicted). Pemakaian berlebihan masih bisa menoleransi diri saat dilakukan kontrol atau dilarang menggunakan perangkat digital. Sedangkan kecanduan (addicted) benar-benar hal yang berbeda. Otak hanya menginginkan satu hal saja dan tidak bisa berhenti. Untuk kasus kecanduan berat demikian orang tua harus meminta bantuan psikiater guna mendapat penanganan lebih lanjut secara tepat.

Kemajuan era digital bak pisau bermata dua. Ia bergantung pada siapa dan bagaimana menggunakannya. Orang tua adalah sosok paling ideal dalam mengajarkan hal-hal positif menggunakan perangkat digital di lingkungan keluarga sehingga anak-anak dapat mereguk manfaat kemajuan zaman. Meminjam rumus ABCD Ippho S., pakar otak kanan, mudah-mudahan bisa terwujud keluarga berkualitas. Di mana A (Ayah) dan B (Bunda) pasti memiliki D (Dampak) bagi anak-anaknya. Kalau diperhatikan, antara huruf B dan D, ada huruf C (Choice, pilihan). Di sini apakah sang AB akan memilih D yang baik atau buruk untuk anaknya, kendali huruf C ada pada orang tua. Tapi, kita tentu percaya bahwa kualitas itu bisa diciptakan. #Appletreebsd



21 Agustus 2016

9 Cara Ilmiah untuk Mencerdaskan Anak Anda, Mau Pilih Mana?

ragam kecerdasan anak
www.wovgo.com
Sebelum kita menuju pada kesembilan macam kecerdasan anak, ada satu fakta yang ingin saya sampaikan. Yakni, hasil riset sebuah lembaga global bernama McKinsey Global Institute yang merilis bahwa pada tahun 2030 nanti akan ada sekitar 400 hingga 800 juta bidang pekerjaan yang tidak lagi menggunakan otot manusia. Semua sudah digantikan oleh mesin dan dilakukan secara otomatis.


Artinya apa? Mendidik manusia calon-calon penghuni tahun 2030, di mana mesin dan otomasi sudah mendominasi, tidak lagi berkutat pada hal-hal yang bersifat pengetahuan saja. Porsinya semakin dikurangi. Atau mungkin dihilangkan, seperti hafalan, pidato di kelas, mengerjakan PR dan lain-lain. Sebagai gantinya adalah memperbanyak porsi pendidikan soft skills (kecakapan-kecakapan halus).

Anda ragu? Atau tidak sependapat? Kenal dengan wajah di bawah ini? Saya sampaikan ucapan Jack Ma, mantan guru yang mendirikan raksasa e-commerce Alibaba, di forum ekonomi dunia WEF (World Economic Forum).  Ia berpesan:

Jack Ma, pendiri raksasa e-commerce Alibaba

"Education is a big challenge now...we can not compete with machines ...we have to teach something unique...values, believing, independent thinking, teamwork, care for others. These are soft parts. Knowledge will not teach you that...we should teach our kids sports, music, painting, art... Everything we teach should be different from machine..."

[Pendidikan menghadapi tantangan besar sekarang...kita tidak sanggup berkompetisi dengan mesin...kita harus mengajarkan sesuatu yang unik...nilai-nilai, keyakinan, berpikir mandiri, kerjasama, peduli kepada orang lain. Kecakapan ini adalah perangkat halus. Pengetahuan tidak akan mengajari Anda itu...saya kira kita harus mengajari anak kita olahraga, musik, melukis, seni - untuk memastikan bahwa manusia itu beda dengan mesin...]

Mengamini ucapan Jack Ma di atas, kita harus meng-install anak-anak dengan software yang mengarah pada karakter, bukan hanya pengetahuan karena mesin sudah memilikinya. Tapi, bagaimana kita membekali generasi emas bangsa di saat mereka berada di masa depan kelak agar tidak tertinggal jauh di belakang?

Jawabannya, pendidikan.

Tapi, model pendidikan yang tepat seperti apa? Bagaimana memanfaatkannya agar bisa memajukan kualitas generasi bangsa?

Artikel ini akan membahas bagaimana memasuki pintu pendidikan anak-anak melalui sembilan pintu kecerdasan yang mereka miliki. Kesembilan macam pintu masuk itu dicetuskan pertama kali oleh seorang pakar bernama Howard Gardner dari Harvard University, Amerika Serikat. Ia dikenal dengan teori kecerdasan majemuk atau disebut multiple intelligences.


Satu hal yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa kecerdasan-kecerdasan yang dibahas di sini pasti dimiliki oleh setiap anak. Yang membedakan hanyalah tingkat dominan atau tidaknya pada diri setiap anak. Artinya, ada anak yang memang sangat menonjol dalam beberapa kecerdasan tertentu, sedangkan kecerdasan yang lain biasa-biasa saja, atau bahkan tidak menonjol sama sekali. Yang pasti, selain memerlukan pola pendidikan yang terintegrasi, seperti yang ada di EduCenter di bilangan BSD Tangerang, juga tugas orang tua untuk menemukan potensi si anak, sekecil apapun bentuknya. Agar Anda dapat memilik gambaran seperti apa kecerdasan anak berikut ini penjelasannya.


Kecerdasan majemuk Howard Gardner
Source: blog.adioma.com

1. Kecerdasan linguistik (bahasa)

Adalah kemampuan menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara baik melalui kata-kata untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dalam berbicara, membaca maupun menulis. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh penceramah, pengarang novel (penulis), tukang negosiasi, pengacara, atau para pemimpin negara di dunia, seperti Ir. Soekarno.

Mendidik anak yang memiliki kecenderungan linguistik bisa dilakukan dengan cara membiasakan diri terpapar dengan hal-hal yang berbau bahasa (baik asing maupun bahasa ibu). Seperti, mengajari gemar membaca, mengajari mengarang, mendengarkan ia bercerita dengan bahasa sendiri, belajar berceramah di depan keluarga dulu kemudian di depan umum, dan lain sebagainya.

Permasalahannya, bagaimana menuntun kecerdasan bahasa seorang anak supaya bisa lebih terarah? Anda bisa memilih banyak kursus bahasa sebagai media mengantarkan anak mengasah kecerdasan lingusitiknya. Salah satunya adalah memilih lembaga yang bisa membuat nyaman anak dalam belajar kebahasaan. Misalnya, lembaga kursus bahasa asing milik EduCenter di atas. Prinspinya ia menghadirkan pendidikan terintegrasi dengan semangat One Stop Education of Excellence. Belajar apapun sudah disediakan. Belajar bahasa asing hanya dilakukan dalam satu lokasi tanpa harus berpindah lokasi yang terkadang lebih jauh sehingga memakan waktu perjalanan.

2. Kecerdasan matematis-logis

Anak dengan kecerdasan ini mampu menangani bilangan, angka-angka, perhitungan, pola, serta pemikiran logis dan ilmiah. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh ilmuwan atau filsuf. Anak yang cerdas matematis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Suka bertanya, bahkan cenderung kritis.
  • Senang melakukan proses untuk menemukan jawaban dari sesuatu atau keadaan yang membuat dirinya penasaran.
  • Memiliki kecakapan dalam memecahkan permasalahan-permasalahan, sesuai dengan tingkatan usianya.
  • Kemampuan berpikir abstraknya sangat bagus.
  • Senang mengeksplorasi bentuk-bentuk dan hubungan-hubungan.
  • Suka membuat eksperimen dan pengamatan secara logis.
  • Kalau bekerja banyak berhubungan dengan angka-angka, perhitungan-perhitungan, derajat-derajat, dan dimensi.
Mengasah kemampuan anak dengan kecerdasan ini harus mengarahkannya pada hal yang berhubungan dengan ciri-ciri di atas. Mereka akan cepat bosan jika apa yang dipelajari tidak mendukung kecerdasan dominannya. Bahkan, cenderung pasif. Mengikutkan kursus matematika adalah salah satu cara yang mendorong untuk mengasah kecerdasan anak dalam berpikir matematis-logis. Anda ikutkan putra/i Anda di Calculus di Educenter BSD adalah pilihan yang tepat. Model konsep pendidikan di #educenter menawarkan pendidikan multidisiplin dalam satu atap sehingga pilihannya mudah dan praktis. 

3. Kecerdasan musikal

Anak Anda suka menabuh benda-benda di sekitarnya? Didengarkan ya kok enak. Bisa jadi dia memiliki kecerdasan musikal. Menyanyinya juga bagus. Kalau diajari irama dan nada dia cepat tanggap dan langsung bisa. Ya, dia termasuk anak dengan kecerdasan musikal. Kemampuan menyimpan nada atau irama musik dalam memori. Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya lebih mudah mengingat sesuatu bila diiringi dengan irama musik. Biasanya, kecerdasan ini dimiliki oleh para musisi, penyanyi, seniman, atau budayawan (ahli budaya). 

Kursus musik, gitar, piano dan semua pembelajaran yang berhubungan dengan bunyi, nada dan irama adalah media pendorong untuk mengantarkannya menemukan kecerdasan dominan. 

4. Kecerdasan visual-spasial

Kemampuan melihat secara detail sehingga bisa menggunakan kemampuan ini untuk melihat segala objek benda yang diamati. Lebih dari itu, kecerdasan ini bisa menangkap semua yang diamati dan mampu melukiskannya kembali. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para insinyur (terutama arsitek), pilot, navigator atau penemu dalam bidang ilmu pengetahuan.

Cobalah untuk melakukan tes seberapa dominan kecerdasan visual spasial yang dimiliki di sini

5. Kecerdasan kinestetis

Kemampuan menggunakan anggota tubuh untuk segala kebutuhan atau kepentingan hidup. Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa mewujudkan ide atau gagasannya melalui gerak fisik. Kecerdasan ini dimiliki oleh para atlet, penari, atau olahragawan sukses di dunia.

Salah satu contoh adalah pemain basket legendaris Michael Jordan. Kecerdasan kinestetis yang dimilikinya mengantarkannya menjadi pemain basket terbaik tingkat dunia. Tentu saja melalui pengarahan dan latihan fisik yang intens. Sebaliknya, jika saj Jordan memilih menjadi musisi mungkin saja ia tidak akan menemukan potensi terbaiknya sampai saat ini. Kesimpulannya, kecerdasan kinestetis memerlukan latihan fisik dan mengarah pada aktivitas gerak tubuh. Diam adalah musuh baginya.

6. Kecerdasan interpersonal

Kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa merasakan secara baik hal-hal berikut: tempramen, suasana hati, serta kehendak orang lain. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para sosiolog (ahli sosial), psikolog, atau konsultan. 

7. Kecerdasan intrapersonal

Kemampuan mengenali dan memahami diri sendiri serta berani bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para ahli bidang ilmu tertentu, ahli filsafat (filusuf), trainer, atau motivator.

8. Kecerdasan naturalis

Kemampuan mengenali lingkungan dan memperlakukannya secara proporsional, sesuai yang semestinya. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para neurolog (ahli saraf), antropolog (ahli ilmu manusia), arkeolog (ahli benda purbakala), dan pecinta alam/lingkungan. 

9. Kecerdasan eksistensial

Kemampuan merasakan dan menghayati pengalaman ruhani atas pelajaran atau pemahaman sesuai keyakinan kepada Tuhan. Biasanya, kecerdasan ini dimiliki oleh para ahli spiritual (sufi), ruhaniawan (tokoh agama), atau filusuf.

Dari sembilan kecerdasan di atas setiap orang memiliki satu yang menonjol, asalkan memberikan pancingan yang tepat dan dilakukan pencarian secara terus menerus sampai menemukannya. Ada yang memilikinya beberapa saja dan ada yang semuanya. Yang jelas, tidak ada istilah batasan dan membatasi kecerdasan pada setiap anak. Jangan pernah membatasi potensi manusia (anak) karena kita tak punya hak untuk itu. Kita sedikit pun tidak pernah turut campur dalam menciptakannya, selain menyumbang keringat hehe.

Setiap manusia diciptakan sempurna dengan sebaik-baik bentuk juga. Ia bukan produk coba-coba, apalagi produk gagal pencipta. Tuhan yang menginginkan manusia ada di bumi, maka tentu Dia sudah membekali khalifah-Nya. Tinggal bagaimana memanfaatkan bekal itu supaya sukses menjalankan misi dari garis start dan selamat sampai di garis finish (akhirat). Sudahkah memberikannya?

21 Desember 2014

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 2)



Semasa kecil hingga remaja Anies kenyang oleh kegiatan-kegitan positif yang menggembleng mental dan pemikirannya. Konon, saat berseragam putih biru dia masuk di ektsrakurikuler yang disebut Peleton Inti, yang biasa disingkat Tonti. Keaktifannya di Tonti didasari oleh masa kecilnya yang terkagum-kagum waktu duduk di atas pundak sang ayah melihat barisan pemain drum band di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Barisannya keren, menurutnya. Kelak, masuklah dia di ekskul tersebut. Bagaimana prestasi akademiknya?

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 1)



Rambutnya keriting, perawakannya tinggi besar, hidungnya mancung khas peranakan arab. Pembawaannya murah senyum. 

Suatu hari, bocah ini merengek minta sekolah kepada ibunya karena sering melihat anak-anak yang berangkat sekolah yang melintas di depan rumahnya. Sang ibu bimbang. Anak itu belum cukup umur. Sebagai dosen ia tahu pentingnya pendidikan, namun ia tak ingin anaknya tercerabut dari dunia permainan. Ia mendiskusikannya dengan sang suami. Berkonsultasi ke psikolog juga dilakukan. Keputusannya, dia sekolah. “Tapi kalau mau saja. Kalau sedang tidak mau jangan dipaksa.” Kata si psikolog (hal. 10).

Kelak, anak kecil yang telah membuat bimbang orang tuanya dan selalu dahaga akan pengetahuan ini membuat geger dunia pendidikan di seantero nusantara. Kiprahnya membuat dunia pendidikan pompa jantung. Ada yang tersenyum optimis. Ada yang sinis. Ada yang menghujat. Tak sedikit yang mencibir. Banyak pula yang mengkritik. Anda tahu kenapa? Semua itu karena dia menelurkan sebuah keputusan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Sebuah keputusan yang mengundang kontroversi, diskusi, polemik dan tarik ulur pendapat, yakni keputusan soal penghentian (sementara) Kurikulum 2013. Siapa gerangan pria ini?

11 November 2014

8 Rahasia Media Sosial untuk Pembelajaran



8 Rahasia Media Sosial untuk Meningkatkan Pembelajaran Siswa

Anda tahu Facebook? Twitter? Dua media sosial inilah yang paling sering digunakan dan merupakan terbesar di antara sekian banyak media bersosialisasi saat ini. Di Indonesia dua media sosial ini paling digandrungi. Bahkan, menurut indonesiaterdidiktik.org, bersosialisasi lewat media sosial sudah dilakukan melalui ponsel cerdas (smartphone). BBC Indonesia menemukan durasi rata-rata masyarakat Indonesia menggunakannya sekitar 181 menit per hari. Wow! Bukankah ini merupakan peluang besar dalam memanfaatkannya untuk pendidikan?

Coba bayangkan, Anda seorang guru yang bisa mengantarkan siswa Anda sukses dalam pembelajaran. Anda disukai siswa-siswa Anda karena membantu mereka untuk memahami pelajaran melalui cara yang menurut mereka gaul dan sesuai dunia mereka. Mereka ingin selalu belajar dengan Anda dan memuji Anda dengan senyum kepuasan mereka. Apa yang Anda rasakan? Ada kepuasan tersendiri, bukan? Ada sedikit cerita berikut ini yang mungkin pernah Anda alami dengan siswa Anda.

21 September 2014

Di mana Sistem Pendidikan Terbaik Dunia? (2 - habis)

(lanjutan dari bag. 1)

Sampsa Vourio, seorang guru di Torpparinmaki Comprehensive School, Finlandia, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negaranya dijalankan sangat demokratis. Penekanan belajar fokus pada proses, bukan pada hasil belajar. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan, tapi untuk perbaikan; sedangkan pekerjaan rumah (PR) dan ujian tak harus dikerjakan dengan sempurna – yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa. Tidak ada sistem peringkat (ranking) sehingga siswa merasa percaya diri dan nyaman terhadap dirinya. Sistem peringkat dipandang hanya membuat guru terfokus pada murid terbaik saja, bukan kepada seluruh murid.

Kesimpulannya, Finlandia telah sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi, dan komitmen dengan keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

*) Dikutip penuh dari buku best-seller Munif Chatib. Gurunya Manusia. Kaifa: Bandung. 2011. (hal. 26-27)

Siapa Munif Chatib?

Dia adalah seorang konsultan pendidikan yang merintis gebrakan inovasi pendidikan di Tanah Air yang kemudian kisah perjalanannya dia tuangkan ke dalam tiga serial buku best-seller-nya: Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, dan Orang Tuanya Manusia. Semuanya diterbitkan oleh Kaifa, Bandung. Berawal dari perkenalan dan interaksinya secara intens dengan praktisi pembelajaran berbasis multiple intelligences asal Amerika Serikat Bobbi DePorter, dia mulai memperkenalkan ke seantero nusantara  apa yang diusung oleh filosofi pendidikan sebagai ‘proses memanusiakan manusia’. Pendidikan bukanlah mekanisme robotik yang kaku dan selalu terotomasi. Selalu ada dinamika di dalamnya. Begitu kira-kira yang diinginkan Munif. Bak gayung bersambut, antusiasme para stake-holder pendidikan pun luar biasa, meskipun yang sinis pun tidak sedikit. Dari pulau Jawa hingga ke Aceh dan Papua dia bersafari ‘menjajakan’ ide pembaharuannya dalam dunia pendidikan Indonesia. “Munif Chatib adalah seorang yang sangat commited dengan pengembangan pendidikan,” tulis Rektor Universitas Paramadina Jakarta Anies Baswedan, di bagian kata pengantar buku ini.

Munif sendiri memang pernah bekerjasama dengan sebuah yayasan yang dirintis Anies Baswedan, Yayasan Indonesia Mengajar, dalam menggembleng dan memberikan training kepada calon-calon Pengajar Muda (PM) sebelum diterjunkan ke berbagai pelosok nusantara. Dari sini pula dua inovator pendidikan ini percaya bahwa memberikan kontribusi, sekecil apa pun, dalam dunia pendidikan di Tanah Air adalah hal yang sangat penting. Slogan “Stop cursing darkness, let’s light more and more candles” ingin menegaskan bahwa, kegelapan itu bukan untuk diumpat dan disumpah serapahi, tapi dicarikan lilin penerangnya. Slogan ini pun menjadi ruh mereka dalam menyusun batu bata dan pilar pendidikan di Tanah Air. Jadi, dari pada mengeluhkan keadaan, lebih bijak kalau fokus mencari cara mengatasinya. Ittuh..hehe

Di mana Sistem Pendidikan Terbaik Dunia? (1)

Tak ada salahnya kita mengintip sejenak model pendidikan di Finlandia. Saya mencoba merangkum informasi yang diperoleh dari hasil video conference dengan Dewan Guru di Finlandia pada Januari hingga Mei 2008.