Seorang Guru Menghasilkan Uang Lewat Menulis Blog

Kisah bagaimana aktivitas menulis bisa menghasilkan tambahan rupiah bagi seorang guru.

Seberapa Siap Anda Menyandang Predikat Orangtua bagi Anak-anak?

Menjadi orangtua untuk anak-anak lebih dari sekedar panggilan bapak atau ibu. Ibarat pilot, ada bekal pengetahuan agar bisa terbang dengan selamat.

9 Macam Kecerdasan, Masuk yang Manakah Anak Anda?

Setiap anak terlahir berbeda dan istimewa. Tidak ada anak yang terlahir sebagai produk gagal tuhan. Sudahkah menemukan keistimewaan yang menjadi keunggulan khas dirinya?

8 Rahasia Media Sosial untuk Meningkatkan Pembelajaran Siswa

Media sosial selain bisa digunakan untuk berinteraksi juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Simak di sini.

Pentingkah mengajari anak menggunakan perangkat digital?

Memang sulit membendung media. Segala informasi ada di dunia maya, pengaruh negatif siap menerkam anak kita. Di mana saja dan kapan saja - Munif Chatib

12 April 2026

Perang AS-Israel Melawan Iran Mereka Bertiga Sama Gilanya

Saya menulis tentang perang ini sekenanya saja. Tidak ada keahlian di bidang perang. Tidak ada latar belakang keilmuan hubungan internasional. Pun bukan pakar Timur Tengah. Apalagi pernah belajar di US. Saya hanya tertarik mengikuti perkembangan geopolitik dunia. Itu saja. Soalnya asyik.

Namun, mungkin Pembaca juga, mengikuti perkembangan perang AS-Israel vs Iran di Timur Tengah lewat media massa, baik yang berseberangan maupun yang mendukung.

Sejak perang meledak di tanggal 28 Februari 2026, dunia (lebih tepatnya saya) kaget. Banyak dampak  yang terjadi. Baik bagi yang terlibat perang maupun yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi perang. 

Ada secercah harapan. Hingga tulisan ini dibuat berita terakhir adalah adanya perundingan yang ditengahi oleh Pakistan yang akan dimulai (11 April 2026).

Bagi saya, satu hal yang jelas: mereka yang terlibat perang sama gilanya. Mereka egois. 

AS-Israel punya alasan sendiri. Pun Iran. Bahkan alasan-alasan mereka bisa berakibat pada gagalnya perundingan yang akan dilakukan di Islamabad. Padahal perang sudah berlangsung sebulan lebih.

Akibat kegilaan itu negara-negara lain harus menanggung akibatnya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Keegoisan itu merugikan dapur negara lain atas nama kepentingan dapurnya sendiri. Dalam ilmu geopolitik katanya ini disebut sebagai nation interest (kepentingan nasional) suatu negara dibaca sebagai nation threat (ancaman nasional) negara lain. Maaf kalau keliru.

Ibarat kata, di sebuah komplek perkampungan dua-tiga orang bertengkar dan saling lempar sendok, garpu, batu, cangkul, sepatu, tapi kaca rumah tetangganya yang pecah. Genteng berantakan. tembok bolong. Padahal tidak ikut-ikut.

Emosi orang lagi marah memang tidak terkontrol karena fungsi otaknya menurun untuk berpikir jernih. Seseorang tidak terkendali. Begitu kata ahli neurologi, sih. Makanya jangan memutuskan sesuatu saat sedang kondisi marah. 

Akibatnya? 

Siapa yang mereka bela? 

Kepentingan nasionalnya? 

Rakyatnya? Biaya perang kan dari pajak rakyatnya. Yang rusak juga rakyatnya. 

Hadeeeh, nasib jadi rakyat jelata di tangan besi penguasa. 

Hanya untuk memenuhi ambisi segelintir orang di lingkaran kekuasaan tapi yang menanggung satu negara, bahkan lintas negara. 

Mereka yang berperang tindakannya punya pembenaran sendiri. Pihak Iran menutup Selat Hormuz. Padahal itu lalu lintas sibuk pengiriman minyak ke banyak dapur. 

AS risih karena nuklir Iran dianggap ancaman sehingga fasilitas-fasilitas tidak bernyawa juga kena hantam. Israel mengipasi AS supaya bantu bedil Iran. 

"Ayo, Bang. Ambil parangmu. Tebas si Syiah." 

"Gas, Hud." AS main ayo saja ajakan si Yahudi. 

Entah sekarang gimana tetangga-tetangga jauhnya yang kena dampak perang. Mungkin saja mereka mau ikut injek salah satunya karena ikut gemes. Supaya keadaan kembali aman, nyaman dan dapur-dapur tetap berasap.

Bagi saya, mereka tidak ada yang lebih hebat. Mau pakai rudal lipstik kek, pesawak biawak kek (nirawak maksudnya hehe), Drun kek. Mereka masih sama: GILA. Orang gila masa sadar kalau dirinya gila. Nggak, kan?

Akibatnya jelas. Selain rusak fisik dan mayat-mayat bergelimpangan saya merasa pasukan yang dilibatkan perang itu menyesal karena tidak ada ambisi yang jelas selain cuma adu urat leher. 

Selain dampak fisik, di mana-mana harga saham bergejolak. Harga minyak naik gara-gara pasokan terbatas dicekik Selat Hormuz. Harga barang dan bahan pokok pasti ikutan naik. Cuma sarung yang tertunda naik. Karena si Ayang lagi monyong lihat harga-harga kebutuhan. Ups.

Saya juga bertanya-tanya kenapa PBB seperti tidak bisa apa-apa. Padahal banyak anggotanya yang kena dampak perang. Mbah Antonio Guterres sebagai sekjen jadi mendadak pemalu kelihatannya. 

Ayo, Bah. Ngapain kek. Ajak mereka yang lagi perang Barbeque-an gitu kek di tepi sungai. Kalau butuh Jailangkung atau Tusuk Konde, WA aja Mbah.

Nih, yang lagi nulis tulisan ini juga kena, Mbah. Dampaknya sudah ke sini. 

Kembali lagi ke perang. Ada yang menyebut Iran perang sendirian karena tidak ada yang bantu. Padahal teman-teman Iran banyak. Ada Hizbullah di Lebanon. Houthi di Yaman. 

Di lain pihak ada yang justru beranggapan AS-Israel yang sendirian karena sekutu-sekutunya menolak ikutan. 

Pandangan di kedua pihak sama-sama terkesan membela.

Tapi, mau sendirian mau sekampung tetap pada ujung yang sama: GILA. Titik.

22 Mei 2023

JNE dan Pesantren Bersinergi, Mungkinkah?

Beberapa tahun lalu, tepatnya sebelum pandemi, sebagai alumni sebuah pesantren di pelosok Jawa Timur penulis beberapa kali dimintai bantuan rekan-rekan yang masih berkhidmat dan mengabdi di sana untuk proses pengadaan sarana sumber belajar santri seperti buku, kitab-kitab klasik, dan sumber bacaan lain untuk para santri.

 

Jumlah santri tempat penulis nyantri memang tergolong besar karena secara keseluruhan mencapai ribuan. Jadi, sekali pengadaan jumlahnya mencapai ribuan eksemplar. Karena volume dan jumlah yang besar beberapa kali penulis harus mencari layanan ekspedisi pengiriman yang bisa memfasilitasinya. Itupun dengan pertimbangan efisiensi biaya.

 


Dan, voila! Layanan JNE Trucking menyediakan. Layanan pengiriman barang jumbo tersebut memang memungkinkan dan dikhususkan untuk pengiriman barang dengan volume dan jumlah besar yang tidak di-cover oleh pengiriman reguler, karena akan membengkak di biaya pengiriman.

 

Dari aktivitas tersebut penulis terpikir gagasan terbalik dalam mengikuti #jnecontentcompetition2023 kali ini. Maksudnya, jika selama ini pesantren tersebut menggunakan ekspedisi sebagai perantara mengantar kebutuhan logistik ke dalam pesantren, kenapa tidak pesantren yang menjadi mitra kerjasama dengan logistik untuk mengantarkan produk-produk yang dihasilkan di dalam pesantren untuk kemudian dikirim kepada konsumen.

 

Berangkat dari gagasan sederhana tersebut penulis kemudian mengorek kemungkinan-kemungkinan, potensi maupun peluang ke depan dan apa saja yang bisa dimainkan. Ternyata, pemerintah daerah sudah menggalakkan program yang mendorong pesantren untuk ikut terlibat dalam ekonomi nasional lewat OPOP (One Pesantren One Product).

 

Di Jawa Barat pernah dihelat sebuah ajang pameran produk pesantren bertajuk “Temu Bisnis dan Pameran OPOP 2022”. Nilai transaksinya pun terbilang raksasa: Rp 42, 1 miliar! Produk made in pesantren di Jawa Barat tersebut juga laris manis di ajang balapan kuda besi MotoGP, sirkuit Mandalika, NTB.

 

Di Jawa Timur juga tidak ketinggalan. Program OPOP bahkan telah menelurkan sebanyak 350 produk khas pesantren. Misalnya pesantren Qomaruddin, Gresik, yang menghasilkan produk songkok, beras dan kue sorgum dari pesantren Fathul Ulum, Jombang, dan tas batok kelapa yang dihasilkan pesantren Mambaul Hisan, Blitar.

 

Gubernur Khofifah Indar Parawansa lewat Dinas Koperasi dan UMKM menyatakan akan terus mendorong satu pesantren satu produk agar mampu menjadi pemain ekspor produk-produk buatan santri; dari yang selama ini masih menjadi importir. Ya, Indonesia masih menjadi importir produk-produk halal terbesar dunia.

 

Dari segi jumlah ternyata pesantren di Indonesia besar juga. Menurut data Kementerian Agama mencapai 36 ribu pesantren, baik besar maupun kecil. Jumlah itu tersebar di 34 provinsi. Belum lagi jumlah santri yang mencapai 3,4 juta. Jumlah tersebut akan bertambah besar bila ditambah wali santri dimana sebagian diantaranya memiliki usaha di level UMKM. Kalau begitu bukankah pesantren adalah pangsa pasar segmented dan seksi?

 

Di era ekonomi abad digital sektor logistik tidak bisa dipungkiri adalah tulang punggung bagi perpindahan barang. Pertukaran informasi yang terjadi begitu cepat akan lumpuh ketika tidak ditunjang oleh sistem perlogistikan yang mumpuni. Sektor logistik juga terbukti terus tumbuh justru di masa pandemi dan pasca pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pertumbuhan sektor ini konsisten terjadi berurutan sejak kuartal I (15,79) kuartal II (21, 27) dan kuartal III (25, 82) di tahun 2022.

 

Peluangnya pun masih sangat cerah ke depan. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi peluang pertumbuhan tersebut berkisar 5-8 persen di tahun 2023. Pertumbuhan tersebut diprediksi karena peluang yang belum sepenuhnya tergarap seperti ekonomi digital dan sektor UMKM.

 

One million dollar question-nya adalah apa yang bisa disinergikan antara JNE dengan pesantren sehingga tercipta #ConnectingHappiness? Dengan pengalaman #JNE32Tahun di sektor logistik terkemuka tentu bukan hal baru bagi JNE dalam menangani arus logistik pelosok. Apalagi didukung dengan delapan ribu jaringan di seluruh tanah air.

 

Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melihat terdapat tiga sektor berikut. Ketiganya diambil berdasarkan pola persebaran pesantren yang cenderung berada di pedesaan atau wilayah pelosok. Di mana secara geografis produk yang dihasilkan adalah produk turunan dari sektor pertanian/perkebunan, perikanan, dan peternakan.

 

Pertanian/perkebunan

Sektor ini dihasilkan oleh pesantren yang secara geografis berada di pedesaan dengan demografi profesi masyarakatnya adalah petani. Bentuk produk yang dihasilkan  berupa produk hasil olahan maupun bahan mentah, seperti rempah-rempah, sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian dan umbi-umbian. Produk hasil olahan berupa makanan siap santap dalam kemasan, seperti keripik, kacang bawang, dan olahan buah.

 

Peternakan

Produk dari sektor peternakan cenderung pada makanan atau minuman siap saji. Hasil olahan dari ternak kambing etawa, misalnya, adalah susu kambing yang dikemas dalam botol-botol berbagai ukuran. Selain itu, ada pula produk abon ayam kampung yang dihasilkan sebuah pesantren di Pangkep, Sulsel. Pesantren tersebut memanfaatkan peternakan yang memang dimiliki pondok sebagai unit usaha.

 

Perikanan

Produk sektor perikanan dihasilkan oleh pesantren yang relatif dekat dengan laut. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan pesantren yang tidak berdekatan dengan sentra ikan atau pesisir memiliki tambak sebagai unit usaha. Seperti yang dihasilkan sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur, yang mengolah kerupuk lobster sebagai produk UMKM.

 

Ketiga sektor di atas hanyalah sebagian diantara sekian banyak produk-produk buatan para santri yang memiliki nilai keekonomian sangat besar. Dunia usaha dan pemerintah juga saling bergandengan tangan dalam upaya recovery perekonomian nasional pasca pandemi. Program OPOP adalah sebagian dari sekian banyak ikhtiar itu. Tentu saja hal itu akan bergerak maju apabila ditopang oleh ekosistem logistik #JNEBangkitBersama yang terbangun berdasarkan semangat simbiosis mutualisme yang berkesinambungan. Pilihannya kemudian adalah bangkit atau terbujur sakit. Sekian.

06 September 2019

Ini Strategi Mengasuh Anak Di Era Digital





"Adik, sudah jangan ke situ nanti rusak lho ya."
"Heh, diam dong. Orangtua ngomong kok menyela terus."
"Pokoknya nanti harus belajar. nanti Mama yang ngajarin."
"Ayah capek. Sana ke Mamamu."
"Aduuuuh. Kok main di tanah sih. Kotor jadinya, kan?"
"Awas jangan pegang-pegang handphone mama."

Ungkapan-ungkapan seperti di atas sering kita temui di kehidupan keluarga ketika menghadapi anak-anak. Percayalah, mereka akan semakin menjadi-jadi kalau dilarang. 

Bunda bisa stress kalau tidak dibumbui kesabaran. Sesekali menonton hiburan lewat handphone. Eh, Si kecil menyambar. Mau ikut main juga. 

Saya teringat kalimat dalam film Spiderman ini ketika diucapkan pamannya dengan mantap sambil memandang ke arah sang pahlawan manusia laba-laba:


"With great power comes great responsibility; seiring  kekuatan besar ada tanggung jawab besar"

Tapi saya ganti saja kutipan di atas menjadi:


"With great mom comes great kids; dibalik anak-anak hebat ada mama hebat."


Mendidik anak usia dini memerlukan perhatian ekstra dari orangtua. Terutama ibu. Apalagi di zaman teknologi saat ini. Rasanya tugas ibu jadi bertambah: mengawasi pola mereka saat bermain dengan perangkat digital. 

Melelahkan sekaligus menantang, bukan? Tapi kalau sukses maka akan dihasilkan generasi-generasi hebat dari ibu hebat. Di artikel ini kita akan membahas tentang pendidikan anak-anak dalam era kecanggihan digital dan bagaimana orangtua menyiasatinya.

Masa keemasan anak adalah fase terpenting. Masa-masa itu begitu menyenangkan, menggemaskan dan pasti akan dirindukan. Nanti ketika  anak-anak  sudah dewasa. Para ahli menyebut masa menggemaskan itu sebagai masa "Golden Age".

Sebuah masa yang sangat penting dan tidak akan pernah terulang lagi. Penting karena menentukan masa-masa selanjutnya. Tidak akan terulang karena ia terjadi sekali. Dalam seumur hidup. 

Golden age berawal dari usia kandungan 0 bulan sampai anak berusia kira-kira 8 tahun. Pada fase ini perkembangan otak anak sangat cepat dan akan terbentuk hingga 80%. 

Ibarat rumah atau bangunan, fase tersebut adalah fondasinya. Jika fondasi itu dibangun dengan kuat dan kukuh, menggunakan semen berkualitas, pasir dan batu pilihan, niscaya rumah tersebut akan kuat berdiri tegak. Meskipun bangunan itu berdiri di atas ratusan lantai. 

Fase tersebut mengharuskan orangtua dan guru agar memberikan perhatian yang serius. Baik pada faktor tumbuh kembang secara fisik maupun psikis pada anak usia dini.

Urusan pendidikan tidak bisa main-main. Ibarat uang, ia adalah investasi. Kita sedang berinvestasi. Namanya investasi manfaatnya baru dirasakan 10 hingga 50 tahun ke depan. Dan itu dimulai dari masa anak-anak sekarang sebagai fondasinya.


Ada budaya menarik. Ini nyata terjadi di Jepang. Di sana 99 persen wanita hamil memilih berhenti bekerja. Tujuannya agar bisa berkonsentrasi pada masa kehamilannya. Mereka akan kembali berkarier dan bekerja setelah anaknya menginjak usia delapan tahun ke atas. 

Setelah melewati masa golden age

Budaya tersebut menunjukkan bahwa masa kehamilan hingga usia emas (golden age) sangat penting bagi wanita Jepang. Para ibu di Jepang mementingkan pendidikan dan perhatian anak di fase usia ini. Tak heran jika negeri Sakura itu maju. Di balik ibu hebat lahirlah anak-anak kuat.

Tujuh tahun pertama anak-anak fokus melewati perkembangannya dengan menyenangkan. Mendapat pendidikan dan perhatian penuh dari orangtua. Baru anak akan tumbuh dengan percaya diri. Berkarakter. Tidak gampang digoyahkan. 

Tujuh tahun pertama tersebut akan mempengaruhi tujuh tahun berikutnya. Lalu tujuh tahun lagi sesudahnya. Sampai anak menginjak usia dewasa. Tiga periodisasi umum tersebut memiliki peran masing-masing. Tujuh tahun pertama adalah yang utama.

Itu juga-lah yang mendasari PAUD Apple Tree Pre-school BSD, Tangerang. Kombinasi antara perhatian orangtua dan pendidikan usia dini di luar rumah yang berkualitas maka besar kemungkinan akan menghasilkan generasi-generasi berkelas. 

Sebagai institusi yang memfokuskan diri pada masa emas anak-anak, Apple Tree Pre-school BSD ikut ambil bagian membibit generasi berkualitas dan memiliki berbagai keunggulan. 

Tengok saja kurikulumnya. Mengadopsi dari kurikulum Singapura yang dikenal sebagai negeri maju di kawasan Asia. Karena menggunakan kurikulum Singapura berarti penggunaan bahasa Inggris dan Mandarin sudah dikenal peserta didik sejak dini. Keuntungannya, anak akan menjadi seorang polyglot (menguasai/penutur banyak bahasa). Seseorang cenderung lebih cerdas kalau dia menguasai lebih dari dua bahasa disamping bahasa ibu.

Berbekal pengalaman selama 19 tahun dalam pendidikan anak usia dini Apple Tree Pre-school BSD memiliki visi mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa. Belasan tahun di dunia pendidikan anak usia dini itu tidak diragukan lagi dalam upaya membentuk perkembangan fisik yang solid. Tentu saja sisi intelektual, emosional dan sosial ikut berkembang dengan baik di dalamnya. 


Tahukah Anda?


  • Orang-orang jenius di Silicon Valley (pusat perkembangan teknologi digital dunia di Amerika Serikat) menjauhkan komputer dari keseharian anak-anak mereka.
  • Perancis melarang penggunaan ponsel di sekolah
  • Terpapar perangkat digital sejak dini bisa menyebabkan otak dan emosi anak berkembang tidak sempurna.
  • Ponsel cerdas (smartphone) bisa membuat anak sulit berkonsentrasi, dan bahkan, tidak mampu berpikir.
  • Bayi yang sering terpapar video berbahasa Inggris, kemampuan perkembangan bersosialisasi dan bahasanya akan terganggu. (buku Yee-Jin Shin, Mendidik Anak di Era Digital).
Sebagai orangtua, ada sebuah dilema ketika anak dihadapkan pada teknologi digital. Di satu sisi, anak-anak mau tidak mau harus terpapar teknologi. 

Di sisi lain, kita harus bijak memanfaatkannya. Tindakan mengisolasi sepenuhnya anak-anak dari peran teknologi juga bukan keputusan bijak. 

Munif Chatib, praktisi dan pakar pendidikan multiple intelligence (kecerdasan majemuk) dan penulis buku 'Orangtuanya Manusia' menulis:

"Memang sulit membendung media. Segala informasi ada di dunia media. Pengaruh negatif siap menerkam anak kita. Media menjadi ancaman berikutnya, bagi anak kita."

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 pernah merilis data bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta. Hingga sekarang kemungkinan jumlahnya terus bertambah. Kemudian, dalam kategori pelajar angkanya cukup mencengangkan, yakni 34 juta pengguna. 

Para pelajar inilah yang sebagian di antaranya adalah digital native. Sebuah generasi yang lahir dan menjadi penduduk asli di saat zaman digital berkembang begitu pesat mengiringi pertumbuhan dan perkembangannya. 

Anak-anak era kekinian, khususnya di perkotaan, begitu familiar dengan gawai. Mereka digitally connected dan begitu piawai menggunakannya, bahkan melebihi orangtuanya yang terkadang masih gagap karena masih tergolong generasi digital immigrant. Generasi pendatang di era digital sehingga masih melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Pernahkah Anda mengalami ketika menggunakan ponsel atau perangkat digital dibantu oleh anak-anak? Mereka menuntun Anda sehingga anda baru mengerti. 

Atau, ada istilah-istilah tertentu yang kita tidak tahu tapi anak-anak sudah mengetahui lebih dulu?

Dengan demikian, para orangtua juga penting untuk ikut up to date sebagai langkah antisipasi, sehingga bisa mengiringi perkembangan para digital native tersebut. Adalah tidak lucu ketika orangtua "diperdaya" anak-anak melalui kecanggihan teknologi karena kealpaan diri terhadap perkembangannya.

Pada bagian lain, Yee-Jin Shin, psikiater Korea mengungkapkan, anak yang terlalu sering terpapar media digital pada tingkat tertentu akan mengalami fase yang ia sebut dengan istilah matang semu.

Secara fisik mereka normal dan baik-baik saja. Ukuran tubuhnya sesuai dengan perkembangan usia seharusnya. Tapi pada perkembangan emosi dan kejiwaannya bermasalah sebagai akibat dari penggunaan media digital secara tidak tepat dan benar.

Hal itu terjadi karena orangtua abai dan tidak mendampingi anak ketika menggunakan perangkat digital. 

Ciri-cirinya, menurut Shin, anak mengalami kesulitan bersosialisasi karena lebih fokus ke gawai (digital device), susah berkonsentrasi, suka membangkang, impulsif dan sulit diatur.

"Semakin sering anak terpapar (menggunakan) perangkat digital, semakin besar kemungkinan anak mengalami kesulitan dalam perkembangan emosi, daya konsentrasi, dan daya pikirnya...pada anak-anak yang masih dalam tahap pembentukan sirkuit otak, efek samping dari perangkat digital menjadi fatal sehingga menimbulkan cacat yang tidak bisa diperbaiki."

Yang paling parah mereka akan mengalami kecanduan (digital addicted). Pada tingkat tertentu sulit disembuhkan dan perlu penangan serius oleh psikiater. 





Di Korea, sebagai negara super power dalam perkembangan IT-nya, fenomena di atas menjadi pemandangan mengerikan. Kalau Anda memegang handphone merk Samsung itulah salah satu produk teknologinya. Dampak perangkat digital, jika tidak dihadapi dengan bijak, sama bahayanya dengan ancaman penyalahgunaan narkoba (drug abuse). 

Bahkan, pada tingkat tertentu, lebih parah dan sulit disembuhkan. Pengaruh penyalahgunaan perangkat digital (digital abuse) merongrong setiap detik di ruang-ruang pribadi yang tak terdeteksi secara kasat mata.

Fenomena demikian diamini oleh Rahma Sugihartati, Dosen Masyarakat Digital FISIP Unair, Surabaya. Ia mengungkapkan bahwa di era posmodern seperti sekarang ini, ancaman bahaya yang menyasar anak-anak bukan di luar rumah saat mereka bermain dan bersosialisasi secara nyata. Sebaliknya, bahaya itu justru kerap terjadi ketika anak masuk kamar dan menenggelamkan dirinya memainkan gawai dan berinternet (Jawa Pos, 6/8). 

Fakta menarik lainnya, menurut laporan New York Times 2011, para teknokrat dan jenius di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang tidak menyediakan fasilitas komputer. 


Padahal, Silicon Valley adalah kiblat dari perkembangan teknologi digital. Ia adalah wilayah berkantornya raksasa-raksasa teknologi yang mengendalikan dunia, semisal Google, Hawlett-Packard (HP), Facebook, dan Apple. 

Di eropa, Perancis secara khusus mulai melarang penggunaan ponsel cerdas di sekolah. Pertanyaannya, haruskah menunggu fenomena Korea tersebut menjangkiti Indonesia untuk menyelamatkan generasi emas bangsa dari ancaman era digital?






Lalu, apakah bijak bila kemudian orang tua melakukan tindakan mengisolasi anak sepenuhnya dari pengaruh teknologi? Sebuah ungkapan menyatakan bahwa ada dua hal di dunia ini yang tidak bisa dilawan, yakni kematian dan teknologi. Kalau yang pertama lebih baik mempersiapkan. Sedangkan yang kedua, sebaiknya menyesuaikan agar tidak tumbang. Untuk menjembatani ketimpangan pengetahuan itu, tujuh prinsip dasar digital parenting dari Yee-Jin Shin ini bisa dipertimbangkan.

1. Mendahulukan “kapan” daripada “apa”


Titik tekan di sini bukan pada perangkat apa (jenis, harga, merk) yang akan diberikan pada anak, melainkan kapan waktu yang tepat mulai mengenalkan. Pada dasarnya, lebih lambat lebih baik asalkan dibarengi dengan digital parenting yang diterapkan pada mereka, terutama yang sudah terlanjur mengenal perangkat digital. Jadi, tidak membiarkan begitu saja dalam penggunaannya.

2. Kualitas lebih penting dari pada kuantitas

Ketika penggunaan perangkat digital ditentukan “waktu”-nya maka ada keteraturan yang diterapkan. Misalnya, memberi batasan kapan boleh bermain game dan tidak, bukan berapa lama bermainnya. Akan lebih berpengaruh jika membangun komunikasi tentang konten yang dimainkan, tidak pada durasinya. Jadi, sebaiknya diputuskan dengan tegas apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh anak lakukan.

3. Tentukan sanksi jika anak melanggar janjinya

Hal ini untuk menjadi warning bagi anak bahwa ada konsekwensi jika terjadi pelanggaran kesepakatan. Tentu saja orang tua harus tegas menerapkannya. Akan lebih baik jika didahului sebuah kesepakatan sebelum memberikan perangkat. Kalau perlu menuliskannya dan ditempel di dinding atau tempat-tempat yang mudah terlihat anak.

4. Jelaskan ditetapkannya peraturan

Agar ada kesadaran untuk melaksanakan peraturan, poin 3 sebaiknya diikuti dengan penjelasan alasan ditetapkannya peraturan. Dengan demikian anak bisa memahami secara baik melalui penjelasan sederhana. Misalnya, kamu bisa bodoh kalau terus bermain game.” Penjelasan masuk akal demikian selain membuat anak maklum, juga menghindari perlawanan karena ketidaktahuan anak alasan diterapkan aturan.

5. Barbagi pengalaman tentang perangkat digital dengan anak

Pengetahuan orang tua tentang digital menjadi bahan untuk mendekatkan dengan anak, sehingga ada komunikasi mengenai sesuatu yang disukai dan tidak disukai anak. Namun, buka berarti harus menguasai semua secara teknis. Cukup mengajaknya bicara tentang beberapa item saat bermain ponsel atau game menunjukkan bahwa Anda di mata anak tidak “ketinggalan” mengenai perangkat digital. Intinya, orang tua menjadi “teman” berbagi pengalaman agar anak merasa nyaman.

6. Libatkan seluruh anggota keluarga

Penerapan digital parenting akan sia-sia jika dalam keluarga tidak kompak. Untuk itu, ayah, ibu, kakak, adik harus mengikuti peraturan tanpa terkecuali. Jika pengasuhan dengan orang lain, mintalah dia untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Akan lebih bijak bila sampai menentukan satu hari dalam seminggu tanpa perangkat digital dan menggantinya dengan kegiatan lain, seperti membaca buku bersama, memasak, dan kegiatan positif lainnya.

7. Minta bantuan psikiater jika tidak bisa mengatasi

Pada kondisi tertentu, ada perbedaan mendasar antara “pemakaian berlebihan” dengan “kecanduan” (addicted). Pemakaian berlebihan masih bisa menoleransi diri saat dilakukan kontrol atau dilarang menggunakan perangkat digital. Sedangkan kecanduan (addicted) benar-benar hal yang berbeda. Otak hanya menginginkan satu hal saja dan tidak bisa berhenti. Untuk kasus kecanduan berat demikian orang tua harus meminta bantuan psikiater guna mendapat penanganan lebih lanjut secara tepat.

Kemajuan era digital bak pisau bermata dua. Ia bergantung pada siapa dan bagaimana menggunakannya. Orang tua adalah sosok paling ideal dalam mengajarkan hal-hal positif menggunakan perangkat digital di lingkungan keluarga sehingga anak-anak dapat mereguk manfaat kemajuan zaman. Meminjam rumus ABCD Ippho S., pakar otak kanan, mudah-mudahan bisa terwujud keluarga berkualitas. Di mana A (Ayah) dan B (Bunda) pasti memiliki D (Dampak) bagi anak-anaknya. Kalau diperhatikan, antara huruf B dan D, ada huruf C (Choice, pilihan). Di sini apakah sang AB akan memilih D yang baik atau buruk untuk anaknya, kendali huruf C ada pada orang tua. Tapi, kita tentu percaya bahwa kualitas itu bisa diciptakan. #Appletreebsd



21 Maret 2019

Revolusi Industri 4.0 - 8 Langkah Strategis Menghadapinya


Anda pernah nggak mendengar cerita anekdot sinis seperti berikut ini tentang otak orang Indonesia? 

“Ada serombongan turis mengunjungi museum biologi. Pemandu membawa ke salah satu bagian dengan koleksi paling menarik: otak manusia dari berbagai negara. 

‘Ini otak dari manusia Amerika, nilainya satu juta dolar, karena inovatif. Ini otak dari manusia Jepang, dua juta dolar.’ Kata sang pemandu.

26 Februari 2019

Satu Penyebab Kasus Pencurian Motor Marak


Curanmor marak, apa kabar kepolisian?