12 April 2026

Perang AS-Israel Melawan Iran Mereka Bertiga Sama Gilanya

Saya menulis tentang perang ini sekenanya saja. Tidak ada keahlian di bidang perang. Tidak ada latar belakang keilmuan hubungan internasional. Pun bukan pakar Timur Tengah. Apalagi pernah belajar di US. Saya hanya tertarik mengikuti perkembangan geopolitik dunia. Itu saja. Soalnya asyik.

Namun, mungkin Pembaca juga, mengikuti perkembangan perang AS-Israel vs Iran di Timur Tengah lewat media massa, baik yang berseberangan maupun yang mendukung.

Sejak perang meledak di tanggal 28 Februari 2026, dunia (lebih tepatnya saya) kaget. Banyak dampak  yang terjadi. Baik bagi yang terlibat perang maupun yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi perang. 

Ada secercah harapan. Hingga tulisan ini dibuat berita terakhir adalah adanya perundingan yang ditengahi oleh Pakistan yang akan dimulai (11 April 2026).

Bagi saya, satu hal yang jelas: mereka yang terlibat perang sama gilanya. Mereka egois. 

AS-Israel punya alasan sendiri. Pun Iran. Bahkan alasan-alasan mereka bisa berakibat pada gagalnya perundingan yang akan dilakukan di Islamabad. Padahal perang sudah berlangsung sebulan lebih.

Akibat kegilaan itu negara-negara lain harus menanggung akibatnya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Keegoisan itu merugikan dapur negara lain atas nama kepentingan dapurnya sendiri. Dalam ilmu geopolitik katanya ini disebut sebagai nation interest (kepentingan nasional) suatu negara dibaca sebagai nation threat (ancaman nasional) negara lain. Maaf kalau keliru.

Ibarat kata, di sebuah komplek perkampungan dua-tiga orang bertengkar dan saling lempar sendok, garpu, batu, cangkul, sepatu, tapi kaca rumah tetangganya yang pecah. Genteng berantakan. tembok bolong. Padahal tidak ikut-ikut.

Emosi orang lagi marah memang tidak terkontrol karena fungsi otaknya menurun untuk berpikir jernih. Seseorang tidak terkendali. Begitu kata ahli neurologi, sih. Makanya jangan memutuskan sesuatu saat sedang kondisi marah. 

Akibatnya? 

Siapa yang mereka bela? 

Kepentingan nasionalnya? 

Rakyatnya? Biaya perang kan dari pajak rakyatnya. Yang rusak juga rakyatnya. 

Hadeeeh, nasib jadi rakyat jelata di tangan besi penguasa. 

Hanya untuk memenuhi ambisi segelintir orang di lingkaran kekuasaan tapi yang menanggung satu negara, bahkan lintas negara. 

Mereka yang berperang tindakannya punya pembenaran sendiri. Pihak Iran menutup Selat Hormuz. Padahal itu lalu lintas sibuk pengiriman minyak ke banyak dapur. 

AS risih karena nuklir Iran dianggap ancaman sehingga fasilitas-fasilitas tidak bernyawa juga kena hantam. Israel mengipasi AS supaya bantu bedil Iran. 

"Ayo, Bang. Ambil parangmu. Tebas si Syiah." 

"Gas, Hud." AS main ayo saja ajakan si Yahudi. 

Entah sekarang gimana tetangga-tetangga jauhnya yang kena dampak perang. Mungkin saja mereka mau ikut injek salah satunya karena ikut gemes. Supaya keadaan kembali aman, nyaman dan dapur-dapur tetap berasap.

Bagi saya, mereka tidak ada yang lebih hebat. Mau pakai rudal lipstik kek, pesawak biawak kek (nirawak maksudnya hehe), Drun kek. Mereka masih sama: GILA. Orang gila masa sadar kalau dirinya gila. Nggak, kan?

Akibatnya jelas. Selain rusak fisik dan mayat-mayat bergelimpangan saya merasa pasukan yang dilibatkan perang itu menyesal karena tidak ada ambisi yang jelas selain cuma adu urat leher. 

Selain dampak fisik, di mana-mana harga saham bergejolak. Harga minyak naik gara-gara pasokan terbatas dicekik Selat Hormuz. Harga barang dan bahan pokok pasti ikutan naik. Cuma sarung yang tertunda naik. Karena si Ayang lagi monyong lihat harga-harga kebutuhan. Ups.

Saya juga bertanya-tanya kenapa PBB seperti tidak bisa apa-apa. Padahal banyak anggotanya yang kena dampak perang. Mbah Antonio Guterres sebagai sekjen jadi mendadak pemalu kelihatannya. 

Ayo, Bah. Ngapain kek. Ajak mereka yang lagi perang Barbeque-an gitu kek di tepi sungai. Kalau butuh Jailangkung atau Tusuk Konde, WA aja Mbah.

Nih, yang lagi nulis tulisan ini juga kena, Mbah. Dampaknya sudah ke sini. 

Kembali lagi ke perang. Ada yang menyebut Iran perang sendirian karena tidak ada yang bantu. Padahal teman-teman Iran banyak. Ada Hizbullah di Lebanon. Houthi di Yaman. 

Di lain pihak ada yang justru beranggapan AS-Israel yang sendirian karena sekutu-sekutunya menolak ikutan. 

Pandangan di kedua pihak sama-sama terkesan membela.

Tapi, mau sendirian mau sekampung tetap pada ujung yang sama: GILA. Titik.

0 comments: