Seorang Guru Menghasilkan Uang Lewat Menulis Blog

Kisah bagaimana aktivitas menulis bisa menghasilkan tambahan rupiah bagi seorang guru.

Seberapa Siap Anda Menyandang Predikat Orangtua bagi Anak-anak?

Menjadi orangtua untuk anak-anak lebih dari sekedar panggilan bapak atau ibu. Ibarat pilot, ada bekal pengetahuan agar bisa terbang dengan selamat.

9 Macam Kecerdasan, Masuk yang Manakah Anak Anda?

Setiap anak terlahir berbeda dan istimewa. Tidak ada anak yang terlahir sebagai produk gagal tuhan. Sudahkah menemukan keistimewaan yang menjadi keunggulan khas dirinya?

8 Rahasia Media Sosial untuk Meningkatkan Pembelajaran Siswa

Media sosial selain bisa digunakan untuk berinteraksi juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Simak di sini.

Pentingkah mengajari anak menggunakan perangkat digital?

Memang sulit membendung media. Segala informasi ada di dunia maya, pengaruh negatif siap menerkam anak kita. Di mana saja dan kapan saja - Munif Chatib

15 November 2015

Siapkah Menjadi Orangtua Bagi Anak Anda?

munif chatib tokoh pendidikan
Buku berjudul Orangtuanya Manusia ini menemukan momentumnya bila dikaitkan dengan Joshua Wong. Pemuda 17 tahun asal Hongkong ini memimpin dan menggerakkan para demonstran yang mengusung demokrasi di Hongkong. Bahkan dia pernah menggerakkan massa pada usia 15 tahun melalui sebuah gerakan menentang sistem pendidikan pemerintah yang dia namai Scholarism. Artinya, dia masih seusia SMP. Hebat. 

07 Februari 2015

Kisah Seorang Guru yang Menghasilkan Uang dari Menulis di Internet

Penghargaan 'Guru Blogger Inspiratif 2014'
Satu dua tahun terakhir saya dihantui oleh keinginan untuk memiliki gadget smartphone. Bukan apa-apa, tapi setiap bertemu teman atau kenalan baru selalu ditanya PIN BBM dan lain-lain. Saya jawab saja dengan santai kalau belum merasa butuh untuk memilikinya. Nanti kalau sudah merasa perlu saya akan membelinya. Kalau bisa bukan dengan uang pribadi dan tak terduga. Padahal aslinya lagi kere, hehe

21 Desember 2014

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 2)



Semasa kecil hingga remaja Anies kenyang oleh kegiatan-kegitan positif yang menggembleng mental dan pemikirannya. Konon, saat berseragam putih biru dia masuk di ektsrakurikuler yang disebut Peleton Inti, yang biasa disingkat Tonti. Keaktifannya di Tonti didasari oleh masa kecilnya yang terkagum-kagum waktu duduk di atas pundak sang ayah melihat barisan pemain drum band di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Barisannya keren, menurutnya. Kelak, masuklah dia di ekskul tersebut. Bagaimana prestasi akademiknya?

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 1)



Rambutnya keriting, perawakannya tinggi besar, hidungnya mancung khas peranakan arab. Pembawaannya murah senyum. 

Suatu hari, bocah ini merengek minta sekolah kepada ibunya karena sering melihat anak-anak yang berangkat sekolah yang melintas di depan rumahnya. Sang ibu bimbang. Anak itu belum cukup umur. Sebagai dosen ia tahu pentingnya pendidikan, namun ia tak ingin anaknya tercerabut dari dunia permainan. Ia mendiskusikannya dengan sang suami. Berkonsultasi ke psikolog juga dilakukan. Keputusannya, dia sekolah. “Tapi kalau mau saja. Kalau sedang tidak mau jangan dipaksa.” Kata si psikolog (hal. 10).

Kelak, anak kecil yang telah membuat bimbang orang tuanya dan selalu dahaga akan pengetahuan ini membuat geger dunia pendidikan di seantero nusantara. Kiprahnya membuat dunia pendidikan pompa jantung. Ada yang tersenyum optimis. Ada yang sinis. Ada yang menghujat. Tak sedikit yang mencibir. Banyak pula yang mengkritik. Anda tahu kenapa? Semua itu karena dia menelurkan sebuah keputusan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Sebuah keputusan yang mengundang kontroversi, diskusi, polemik dan tarik ulur pendapat, yakni keputusan soal penghentian (sementara) Kurikulum 2013. Siapa gerangan pria ini?

11 November 2014

8 Rahasia Media Sosial untuk Pembelajaran



8 Rahasia Media Sosial untuk Meningkatkan Pembelajaran Siswa

Anda tahu Facebook? Twitter? Dua media sosial inilah yang paling sering digunakan dan merupakan terbesar di antara sekian banyak media bersosialisasi saat ini. Di Indonesia dua media sosial ini paling digandrungi. Bahkan, menurut indonesiaterdidiktik.org, bersosialisasi lewat media sosial sudah dilakukan melalui ponsel cerdas (smartphone). BBC Indonesia menemukan durasi rata-rata masyarakat Indonesia menggunakannya sekitar 181 menit per hari. Wow! Bukankah ini merupakan peluang besar dalam memanfaatkannya untuk pendidikan?

Coba bayangkan, Anda seorang guru yang bisa mengantarkan siswa Anda sukses dalam pembelajaran. Anda disukai siswa-siswa Anda karena membantu mereka untuk memahami pelajaran melalui cara yang menurut mereka gaul dan sesuai dunia mereka. Mereka ingin selalu belajar dengan Anda dan memuji Anda dengan senyum kepuasan mereka. Apa yang Anda rasakan? Ada kepuasan tersendiri, bukan? Ada sedikit cerita berikut ini yang mungkin pernah Anda alami dengan siswa Anda.