Pages - Menu

21 Desember 2014

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 2)



Semasa kecil hingga remaja Anies kenyang oleh kegiatan-kegitan positif yang menggembleng mental dan pemikirannya. Konon, saat berseragam putih biru dia masuk di ektsrakurikuler yang disebut Peleton Inti, yang biasa disingkat Tonti. Keaktifannya di Tonti didasari oleh masa kecilnya yang terkagum-kagum waktu duduk di atas pundak sang ayah melihat barisan pemain drum band di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Barisannya keren, menurutnya. Kelak, masuklah dia di ekskul tersebut. Bagaimana prestasi akademiknya?

Hutang Revolusi Mental Anies Baswedan (bag. 1)



Rambutnya keriting, perawakannya tinggi besar, hidungnya mancung khas peranakan arab. Pembawaannya murah senyum. 

Suatu hari, bocah ini merengek minta sekolah kepada ibunya karena sering melihat anak-anak yang berangkat sekolah yang melintas di depan rumahnya. Sang ibu bimbang. Anak itu belum cukup umur. Sebagai dosen ia tahu pentingnya pendidikan, namun ia tak ingin anaknya tercerabut dari dunia permainan. Ia mendiskusikannya dengan sang suami. Berkonsultasi ke psikolog juga dilakukan. Keputusannya, dia sekolah. “Tapi kalau mau saja. Kalau sedang tidak mau jangan dipaksa.” Kata si psikolog (hal. 10).

Kelak, anak kecil yang telah membuat bimbang orang tuanya dan selalu dahaga akan pengetahuan ini membuat geger dunia pendidikan di seantero nusantara. Kiprahnya membuat dunia pendidikan pompa jantung. Ada yang tersenyum optimis. Ada yang sinis. Ada yang menghujat. Tak sedikit yang mencibir. Banyak pula yang mengkritik. Anda tahu kenapa? Semua itu karena dia menelurkan sebuah keputusan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Sebuah keputusan yang mengundang kontroversi, diskusi, polemik dan tarik ulur pendapat, yakni keputusan soal penghentian (sementara) Kurikulum 2013. Siapa gerangan pria ini?